Minggu, 30 Juni 2013

Dominansi ketentraman

Tidak setiap hari ada ketenangan batin. ketenangan batin salah satunya muncul ketika sayup-sayup terdengar suara "biota terbang" melantunkan syairnya di tengah-tengah keheningan hutan pegunungan. Walau tak semerdu penyanyi kolosal tapi mampu menentramkan. Hembusan angin yang tak ada habisnya seakan menyuruh untuk tetap tinggal disini hanya untuk merasakan dan menjaga kehijauan dari tangan-tangan dengan kreatifitas tinggi yang merusak warnanya. Kau berusaha menunjukkan ke khasanmu lewat medan bebatuan dengan rute tidak semulus jalan di kota metropolis. Lambaian dedaunan seakan memanggil untuk beristirahat sejenak dibawah naungan kekokohan pohon-pohon tropis. Surgamu akan dirasa memuncak ketika sang surya muncul dengan senyuman sinarnya dan kembali ke peraduannya dengan ucapan mesra keheningan malam. Aku tidak bisa berharap tinggi untuk 10 tahun lagi. Apakah keadaanmu masih tetap seperti apa yang aku lihat sekarang? Ataukah lebih buruk dari sekarang?
Entah darimana lagi ku nikmati kehijauanmu hanya untuk sekedar melepas lelah...
Selagi masih bisa dan ada kehijauan di alam, mari pelajari ilmu apa yg ada di alam ini. Jangan takut, belajarlah dari kehidupan yg keras dari biota "Savana". Satu yg ku ingin, Ketenangan dari Alam ku,,


Adit peacemakers, 2011

Minggu, 28 April 2013

Neurothemis sp (Capung)


Capung atau sibar-sibar dan Capung Jarum adalah kelompok serangga yang tergolong ke dalam bangsa Odonata. Kedua macam serangga ini jarang berada jauh-jauh dari air, tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra-dewasa anak-anaknya. Namanya dalam bahasa daerah adalah papatong (Sd.), kinjeng (Jw.), coblang (Jw.), kasasiur (bjn), tjapung
Capung (subordo Anisoptera) relatif mudah dibedakan dari capung jarum (subordo Zygoptera). Capung umumnya bertubuh relatif besar dan hinggap dengan sayap terbuka atau terbentang ke samping. Sedangkan capung jarum umumnya bertubuh kecil (meskipun ada beberapa jenis yang agak besar), memiliki abdomen yang kurus ramping mirip jarum, dan hinggap dengan sayap-sayap tertutup, tegak menyatu di atas punggungnya.
Capung dan capung jarum menyebar luas, di hutan-hutan, kebun, sawah, sungai dan danau, hingga ke pekarangan rumah dan lingkungan perkotaan. Ditemukan mulai dari tepi pantai hingga ketinggian lebih dari 3.000 m dpl. Beberapa jenisnya, umumnya jenis capung, merupakan penerbang yang kuat dan luas wilayah jelajahnya. Beberapa jenis yang lain memiliki habitat yang spesifik dan wilayah hidup yang sempit. Capung jarum biasanya terbang dengan lemah, dan jarang menjelajah jauh.
Siklus hidup capung, dari telur hingga mati setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga maksimal enam atau tujuh tahun. Capung meletakkan telurnya pada tetumbuhan yang berada di air. Ada jenis yang senang dengan air menggenang, namun ada pula jenis yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah menetas, tempayak (larva) capung hidup dan berkembang di dasar perairan, mengalami metamorfosis menjadi nimfa, dan akhirnya keluar dari air sebagai capung dewasa.
Sebagian besar siklus hidup capung dihabiskan dalam bentuk nimfa, di bawah permukaan air, dengan menggunakan insang internal untuk bernapas. Tempayak dan nimfa capung hidup sebagai hewan karnivora yang ganas. Nimfa capung yang berukuran besar bahkan dapat memburu dan memangsa berudu dan anak ikan. Setelah dewasa, capung hanya mampu hidup maksimal selama empat bulan.
Foto capung kebun merah karya diambil di hutan Situgede, Bogor, 13/12/2004


Siklus hidup capung, dari telur hingga mati setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga maksimal enam atau tujuh tahun, tetapi hanya beberapa minggu saja (maksimal sampai 4 bulan) yang dijalaninya sebagai capung dewasa. Ada 3 tahapan dalam siklus hidup capung, yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa. Sebagian besar siklus hidup capung dihabiskan dalam bentuk nimfa (serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya)yang hidup di dalam air.

Tahap pertama dalam siklus hidup capung:
                    Siklus kehidupan capung dimulai dari telur yang diletalakan oleh capung betina di ranting tanaman didalam air atau di genangan air atau di air yang mengalir, akan menetas menjadi Nimfa (nymphs, atau naiads) atau Capung pra-dewasa (sebelum dewasa) dalam waktu 1-2minggu. Pada beberapa spesies, capung jantan akan tetap bersama dengan capung betina dan terbang bersama sambil sang capung betina meletakan telurnya ke air. Ada juga capung jantan yang melepaskan capung betina setelah kawin tetapi tetap mengawasinya saat capung betina itu bertelur. Kadang capung betina bertelur hanya sendiri saja.
Siklus Hidup capung
(Foto : Capung jarum kawin, Sumber : http://jujujitu.blogspot.com/2011/05/siklus-hidup-capung.html


Tahap kedua dalam siklus hidup capung: Nimfa
Setelah telur menetas dalam waktu 1-2 minggu, kehidupan larva capung sebagai nimfa (nymphs, atau naiads) pun dimulai. Nimfa capung hidup sebagai hewan karnivora yang ganas. Nimfa capung yang berukuran besar bahkan dapat memburu dan memangsa berudu dan anak ikan. Nimfa capung bernafas dengan insang yang ada di dalam rektumnya di ujung perut. Sedangkan nimfa capung jarum bernafas dengan 3 insang seperti bulu yang ada di ujung perutnya. Nimfa capung akan hidup di air sampai menjadi cukup besar untuk kemudian berubah menjadi capung dewasa (imago). Nimfa akan mengalami beberapa kali pergantian kulit (ekdisis). Tiap tahapan diantara pergantian kulit itu disebut instar. Tergantung dari jenis spesiesnya, bisa terdapat 8-17 instar. Umur nimfa sendiri dapat mencapai 4 minggu sampai beberapa tahun. Instar terakhir akan merayap keluar dari air, melepas kulitnya dan keluar sebagai capung dewasa.

Foto ketika capung menjadi karnivora ganas,(Sumber :  http://jujujitu.blogspot.com/2011/05/siklus-hidup-capung.html)

Tahap ketiga dalam siklus hidup capung: Imago (Capung dewasa)
Ketika nimfa sudah benar-benar berkembang, dan kondisi lingkungan/cuaca mendukung, ia akan menyelesaikan tahap  metamorfosisnya menjadi capung dewasa dengan merayap keluar dari air pada ranting tanaman. Nimfa akan melepaskan kulitnya dan menjadi capung dewasa muda. Kulit nimfa itu di sebut exuvia. Beberapa spesies capung melakukan proses pelepasan exuvia pada malam hari dan siap terbang pada keesokan harinya. Spesies lainnya melakukannya pada siang hari. Proses ini biasanya berlangsung singkat, hanya beberapa jam saja, tetapi diikuti oleh jumlah capung yang banyak. Penetasan masal ini menjamin capung jantan dan betina akan dewasa sempurna dalam waktu yang sama. Hal ini juga untuk menjamin agar ada cukup banyak capung dewasa nantinya, yang selamat dari kejaran predatornya, yang akan melanjutkan proses perkembang-biakan selanjutnya.
Ketika capung melepaskan exuvia-nya, maka ia telah menjadi capung dewasa sepenuhnya namun belum cukup matang secara seksual. Diperlukan waktu sampai sekitar 2 minggu untuk bisa benar-benar dewasa secara seksual (mature). Capung yang baru lahir ini, dengan warna yang lebih pucat dari capung dewasa sepenuhnya,  disebut “teneral” atau immature. Capung akan mulai berburu mangsanya sambil terbang. Ketika capung sudah dewasa sepenuhnya, ia akan mulai mencari lingkungan yang basah dan mulai mencari pasangan. Ketika telah menemukan pasangan dan kawin, capung betina akan mulai bertelur dan siklus hidup capung di mulai lagi. Capung dewasa hanya dapat hidup maksimal sampai 4 bulan.


Capung (atas) dan capung jarum (bawah) sedamg melakukan tahap akhir metamorfosisnya (emerging).


Setelah sekitar 1 jam dari sejak melepaskan kulit exuvia-nya, capung sudah siap untuk terbang (atas) dan akan mulai mencari makananya yang bisa berupa serangga-seranga terbang kecil, atau capung lain (bawah).
Setelah matang secara seksual, capung akan mencari pasangannya dan kawin. Biasanya ketika sedang kawin dan terbang, capung betina akan berisitirahat (tidak mengerakan sayapnya) (atas). Capung jarum kawin (bawah).

Kamis, 18 April 2013

UTS EKOLOGI EKWAN



SOAL
1.        Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan  poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.

2.        Jelaskan pemanfaatan konsep kelimpahan, intensitas dan prevalensi, disperse, fekunditas, dan kelulushidupan dalam kaitannya dengan penetapan hewan langka!

3.        Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!

4.        Nilai sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!

5.        Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!

6.        Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya. (dalam satu kelas, hewan yang dikaji tidak boleh sama)!






1.      Konsep waktu dalam kasus ulat bulu ini memiliki pengertian yaitu lama tidaknya jangka waktu yg dibutuhkan oleh hewan, yang nantinya akan sangat berkaitan dengan laju perkembangannya.
Peledakan populasi seperti halnya kasus ulat bulu yang ada di probolinggo terjadi di akibatkan oleh beberapa factor yakni perubahan iklim, terjadi perubahan suhu dan kelembapan udara, dan juga dikarenakan musuh alami ulat bulu seperti burung pemakan ulat dan semut keranggang yang semakin berkurang populasinya. Sehingga tidak ada yang mengontrol populasi ulat bulu, akibatnya jumlah ulat bulu semakin banyak dan tidak terkendali lagi. Apalagi dalam hal ini perubahan suhu dan kelembapan udara yang justru sangat menguntungkan bagi perkembangbiakannya.

Menurut Pracaya (2008), iklim dengan kelembapan kurang dari 70% dan suhu harian tinggi, antara 26-32 C mampu memicu perkembangan pupa. Dalam hal ini siklus hidup ulat ini berkisar antara 25-60 hari. Dalam iklim yg sedang tidak menentu seperti pada kasus tadi bisa jadi siklus hidup ulat bulu menjadi lebih cepat dari yg semestinya karena ulat termasuk golongan hewan yg poikiloterm. Sumber: Makalah “Analisis Ilmiah Wabah Ulat Bulu di Probolinngo”

2.      Kelimpahan populasi suatu spesies mengandung dua aspek yang berbeda, yaitu aspek intensitas dan aspek prevalensi. Intensitas menunjukkan aspek tinggi rendahnya kerapatan populasi dalam area yang dihuni spesies. Prevalensi menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati spesies dalam konteks daerah yang lebih luas (masalah sebaran).
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (=prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu.
Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut:

prevalensi tinggi (=prevalen) dan intensitasnya tinggi
prevalensi tinggi (=prevalen) tetapi intensitasnya rendah
prevalensi rendah (=terlokalisasi) tetapi intensitasnya tinggi
prevalensi rendah (=terlokalisasi) dan intensitasnya rendah.

Badak Jawa dan Jalak Bali bersifat endemic dan merupakan spesies langka yang terancam kepunahan. Ktegorisasi status spesies dengan memperhitungkan dua aspek tersebut sangat penting terutama dalam menentukan urutan prioritas perhatian dan untuk melakukan upaya-upaya kelestarian spesies hewan langka yang terancam punah.
Spesies yang terlokalisasi dan intensitasnya rendah dikategorikan sebagai spesies langka. Adakalanya spesies yang intensitasnya tinggi namun prevalensinya rendah pun dimasukkan dalam kategori tersebut.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab langkanya suatu spesies sangat banyak. Namun, faktor-faktor tersebut mengkin saja tidak sama antara spesies di suatu tempat tertentu dengan spesies di tempat lain.
http://nenkiuedubio.blogspot.com/2011/05/populasi-hewan.html

Kaitan antara kelimpahan dengan status kelangkaan hewan adalah area yg dihuni oleh spesies local (awal) menjadi sempit dikarenakan spesies lain yg lulus dalam kompetisi memangsa dan dimangsa dalam area tersebut berhasil seolah menjadi raja di spesies hewan yg terancam punah tadi. Sehingga lama kelamaan populasi spesies yg sudah mengalami kelulus hidupan dihabitatnya tadi menjadi semakin banyak dan akan menggeser populasi spesies local (awal). Belum lagi dengan adanya kehadiran spesies lain yg dalam hal ini sebagai pesaing atau bahkan predator. Sehingga dari keadaan awal habitat tempat yg kondusif bagi spesies (awal) tadi sekarang menjadi tidak kondusif lagi dan memaksa spesies tersebut untuk mencari hunian di area lain yg mungkin belum sepenuhnya cocok dengan lingkungan tempat spesies terancam punah tadi. Dan otomatis pergerakan dari pencarian tempat tinggal baru ini akan menyebabkan pola persebaran yg acak serta tidak memento (untuk sebagian spesies yg hidupnya tidak bergerombol atau bersama-sama misal).
 

3.      Simbiosis parasitisme memiliki pengertian interaksi yg dilakukan oleh suatu individu dengan individu lain, dimana salah satu individu tersebut mendapat keuntungan sedangkan individu yg lain mendapatkan kerugian dalam populasi. Contohnya interaksi antara tumbuhan tali putri dengan inangnya. Tumbuhan tali putri mendapatkan makanan dan tempat tinggal dari inangnya. Sedangkan inangnya mendapat kerugian karena makanannya diambil oleh tumbuhan tali putri.

Tali Putri adalah tumbuhan parasit, kelangsungan hidup tali putri sangat bergantung pada tumbuhan lain. Tumbuhan ini tidak berakar dan tidak menghasilkan makanan sendiri melalui proses fotosintesis seperti halnya tumbuhan hijau daun. Ia hanya melilitkan sulurnya, lalu mengisap saripati makanan dari tumbuhan inang. Sifat parasitnya sudah diperlihatkan sejak beberapa hari pertama dalam kehidupannya. Kantung makanan yang terdapat pada bijinya hanya cukup memberi makan selama beberapa hari saja dan memperpanjang batang hingga 4 inci atau 10 sentimeter. penelitian yang dilakukan para ahli di Pennsylvania State University, AS, memperlihatkan suatu temuan yang menarik. Rahasianya ada pada kemampuan tali putri dalam mengendus volatile atau sejenis zat kimia yang dihasilkan tumbuhan. Bau volatile itulah yang dijadikan “panduan” tali putri untuk bergerak ke arah tumbuhan bakal inangnya. Sebuah bentuk komunikasi mengagumkan dari dunia tumbuhan yang pernah diketahui. Setelah menempel, melilitkan sulurnya, mulailah tali putri mengisap saripati makanan dari tumbuhan inang.
“Jika mereka bergerak ke arah yang salah, mereka akan mati,” kata Consuelo De Moraes, salah seorang peneliti dari Pennsylvania State University kepada LiveScience. Secara detail, temuan tersebut dimuat dalam jurnal Science edisi 29 September 2006. Temuan itu memperlihatkan untuk pertama kalinya diketahui tali putri bisa menjadi “chatter” tumbuhan lain. Temuan ini sekaligus memecahkan persoalan debat panjang selama beberapa dekade tentang fungsi dan keberadaan volatile bahan kimia mudah menguap dalam interaksi antara satu tumbuhan dengan tanaman lain. Sumber http://www.terbaca.com/2010/06/sifat-parasit-tumbuhan-tali-putri.html

Seperti halnya tanaman gulma, tanaman tali putri termasuk dalam kelompok gulma. Tiap tahun tali putri menghasilkan biji yang jatuh ketanah dan berkecamabah dalam tanah .tali putri muda panjangnya 2-4 inci ,yang tumbuh dan bergerak kearah inang pada musim panas dan gugur atau musim ke marau di indonesia ,tali putri menghasilkan bunga bunga berukuran kecil berwarna putih . bunga ini memproduksi 2 sel kapsul yang meretak dan melepaskan 1-4 biji,dimana tiap bijinya bisa menghasilkan tumbuhan baru tiap tahun. http://artikelsainsbiologi.blogspot.com/2010/12/tali-putri-si-genit-yang-parasit.html

Pengendalian gulma dengan menggunakan organisme hidup, seperti serangga, ikan pemakan tanaman dan hewan lainnya, organisme penyakit dan tanaman pesaing untuk membatasi gulma (Gupta, 1984). Pengendalian biologis dalam hal menangani gulma parasit seperti tali putri dapat dilakukan dengan menggunakan wereng. Wereng selalu melakukan penghisapan sejenis zat cair dan air dari batang-batang tanaman tali putri   atau sejenisnya yang masih muda atau butir-butir buahnya yang juga masih muda dan lunak. Sumber http://widyatan.com/index.php/download/category/5-bahan-ajar?download=4:pengendalian-gulma-kakao 

Sedangkan aplikasi parasitoidisme lebih detailnya dicontohkan pada serangga, umumnya adalah tawon kecil. Dimana tawon tersebut selalu meletakkan telurnya di atas inang yg hidup. Larva itu kemudian memakan bagaian dalam tubuh inang, yang akhirnya menyebabkan kematian inang tersebut.

4.      Peserta didik harus dapat memahami arti,atau setidaknya langkah tepat yang harus diambil ketika harus beretika dengan hewan maupun lingkungan kehidupannya. Contohnya ketika peserta didik dihadapkan dengan suatu ekosistem sungai, dimana disungai tersebut masih banyak terdapat hewan-hewan air misalnya ikan (ketika dalam kondisi belum tercemar). Namun ketika ada pabrik yang berdiri di dekat ekosistem ikan tersebut, sedikit demi sedikit ikan yang disungai akan mati. Dalam kondisi yg seperti ini, jika yang mendirikan pabrik tersebut memahami benar tentang lingkungan maka sedapat mungkin dia tidak akan  memunahkan ekosistem di sungai tersebut. Atau kalau bisa dia akan mendirikan suatu kompleks penangkaran, sebagai ganti dari habitat hewan yg telah terpakai oleh karena berdirinya pabrik tersebut. Intinya ada pada etika dan solusi yg tepat.

5.      Penggunaan makrozoobentos sebagai penduga kualitas air dapat digunakan untuk kepentingan pendugaan pencemaran baik yang berasal dari point source pollution maupun diffuse source pollution. Point source yaitu polusi yang bersumber dari satu titik misalnya air limbah domestik dan industri, sedangkan diffuse source pollution atau non point source (sumber tersebar) dimana sumber polusi tersebar dimana-mana seperti limbah pertanian (pupuk pestisida), perikanan atau pakan ikan, dan peternakan. Makrobentos memiliki sifat ubiquitous atau terdapat dimana-mana dan dapat memberikan spektrum respon terhadap stress lingkungan. Kehidupannya relatif menetap pada habitatanya sehingga memungkinkan menjelaskan perubahan spatial dan juga memiliki siklus hidup lebih panjang yang memungkinkan menjelaskan perubahan temporal. Sumber : Skripsi “KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI BATANG ANAI, SUMBAR”.

6.      Anoa (Bubalus spp.) merupakan penghuni hutan yang hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa dan apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan tanduknya. Habitatnya di hutan tropika dataran, savanna, kadang-kadang dijumpai di rawa-rawa. Anoa memiliki kebiasaan berkubang atau berendam digenangan air di hutan pantai yang berbatasan langsung dengan hutan bakau pada siang hari yang terik. Satwa ini juga termasuk perenang dan pendaki gunung yang ulet, mereka sering dijumpai berenag dipantai. Kebiasaan anoa yang lain yaitu mengasah atau meruncingkan tanduknya pada pohon-pohon tertentu, menggaruk tanah di sekitar tempat pembuangan kotorannya disepanjang lintasannya di dalam hutan. Satwa tersebut aktif baik pada siang hari maupun pada malam hari. Tambahan lagi makhluk ini termasuk satwa liar yang sangat peka, gangguan sedikit saja menyebabkan satwa ini menjauh.
Menurut Amir (2008), dalam catatan penelitian (progress report) STORMA, pergerakan Anoa (Bubalus spp) berlangsung secara berkelompok maupun sendiri, dan bergerak dari tempat yang rendah menuju tempat yang lebih tinggi dan begitupun sebaliknya. pergerakan ini dilakukan untuk mencari makan ataupun minum dan melakukan istirahat. Pergerakan ini umumnya bergerak dengan radius sampai 3,5 km atau lebih..
Di alam bebas Anoa liar memakan “aquatic feed” antara lain berupa pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Pujaningsih, et al., (2005) dan beberapa peneliti dilaporkan bahwa Anoa dataran rendah kadang-kadang juga minum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Di dataran tinggi, Anoa menjilat garam alami dalam rangka pemenuhan kebutuhan mineralnya. (Malik et al., 2004; Pujaningsih, 2005). Sumber : http://www.ksdasulsel.org/artikel/fauna/165-anoa-satwa-endemik-sulawesi
Anoa cenderung menghindari kontak langsung dengan manusia dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas manusia seperti adanya ternak sapi atau kerbau. Kecuali pada beberapa kawasan hutan dimana anoa tidak punya pilihan untuk menghindar karena habitatnya terisolir, anoa dapat saja ditemukan mendatangi areal perkebunan yang berbatasan dengan hutan atau kawasan konservasi.
Seiring pertambahan penduduk dan terbukanya akses oleh berbagai kegiatan seperti pemukiman, transmigrasi, perkebunan dan pertambangan, habitat anoa yang dahulunya sulit terjangkau, aksesnya semakin terbuka, akibatnya habitat satwa ini semakin berkurang dan terkotak-kotak yang pada akhirnya menyebabkan populasinya menurun. Banyak kawasan hutan yang dahulunya dikenal sebagai habitat anoa tidak lagi dijumpai satwa tersebut seperti yang terjadi di CA Tangkoko Batuangus di Bitung Sulawesi Utara, anoa punah secara lokal. Habitat anoa terfragmentasi, populasi kecil terisolir sehingga diantara individu tidak terjadi perkawinan dan pertukaran genetik yang pada gilirannya akan membawa masalah serius inbreeding, perkawinan antar kerabat dekat yang mana akan menyebabkan terjadinya erosi genetik seperti yang terjadi pada kawasan hutan yang relatif sempit misalnya SM Tanjung Amolengo dan CA Lamedai di Sulawesi Tenggara dan banyak kawasan hutan lainnya yang dihuni anoa telah terfragmentasi seperti ini http://www.scribd.com/doc/22143969/Kharakteristik-Habitat-Anoa






Mekanisme perilaku makan "Rayap"

Rayap pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun sebarannya kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate ) dengan batas-batas 50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian kita menarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen. Tapi masalahnya adalah manusia juga merupakan konsumen primer yang memerlukan hasil-hasil tanaman bukan saja untuk makanannya tetapi juga untuk membuat rumah dan bangunan-bangunan lain yang diperlukannya. Di sinilah letak permasalahannya, sehingga manusia bersaing dengan rayap. Semula agak mengherankan para pakar bahwa rayap mampu makan (menyerap) selulosa karena manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa (bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi !), sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata  dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa  yang berperan tetapi bakteria -- dan bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes , Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di "kebun jamur" dalam sarangnya.