peacemaker
Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang. (Putra Sang Fajar, Soekarno)
Minggu, 30 Juni 2013
Minggu, 28 April 2013
Neurothemis sp (Capung)
Capung atau sibar-sibar
dan Capung Jarum adalah kelompok serangga
yang tergolong ke dalam bangsa Odonata. Kedua macam serangga ini jarang berada
jauh-jauh dari air,
tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra-dewasa anak-anaknya. Namanya
dalam bahasa daerah adalah papatong (Sd.), kinjeng (Jw.), coblang
(Jw.), kasasiur (bjn), tjapung
Capung (subordo Anisoptera)
relatif mudah dibedakan dari capung jarum (subordo Zygoptera). Capung umumnya
bertubuh relatif besar dan hinggap dengan sayap terbuka atau terbentang ke
samping. Sedangkan capung jarum umumnya bertubuh kecil (meskipun ada beberapa
jenis yang agak besar), memiliki abdomen yang kurus ramping mirip jarum, dan hinggap dengan
sayap-sayap tertutup, tegak menyatu di atas punggungnya.
Capung dan capung jarum menyebar
luas, di hutan-hutan,
kebun,
sawah,
sungai
dan danau,
hingga ke pekarangan
rumah dan lingkungan perkotaan.
Ditemukan mulai dari tepi pantai hingga ketinggian lebih dari 3.000 m dpl. Beberapa
jenisnya, umumnya jenis capung, merupakan penerbang yang kuat dan luas wilayah
jelajahnya. Beberapa jenis yang lain memiliki habitat
yang spesifik dan wilayah hidup yang sempit. Capung jarum biasanya terbang
dengan lemah, dan jarang menjelajah jauh.
Siklus hidup capung, dari telur
hingga mati setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga maksimal enam
atau tujuh tahun. Capung meletakkan telurnya pada tetumbuhan
yang berada di air. Ada jenis yang senang dengan air menggenang, namun ada pula
jenis yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah menetas, tempayak
(larva) capung hidup dan berkembang di dasar perairan, mengalami metamorfosis
menjadi nimfa, dan akhirnya keluar dari air sebagai capung dewasa.
Sebagian besar siklus hidup
capung dihabiskan dalam bentuk nimfa, di bawah permukaan air, dengan
menggunakan insang
internal untuk bernapas. Tempayak dan nimfa capung hidup sebagai hewan karnivora
yang ganas. Nimfa capung yang berukuran besar bahkan dapat memburu dan memangsa
berudu
dan anak ikan.
Setelah dewasa, capung hanya mampu hidup maksimal selama empat bulan.
Foto capung kebun
merah karya diambil di hutan Situgede, Bogor, 13/12/2004
Siklus hidup
capung,
dari telur hingga mati setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga
maksimal enam atau tujuh tahun, tetapi hanya beberapa minggu saja (maksimal
sampai 4 bulan) yang dijalaninya sebagai capung
dewasa. Ada 3 tahapan dalam siklus hidup capung,
yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa. Sebagian
besar siklus hidup capung
dihabiskan dalam bentuk nimfa (serangga muda yang mempunyai sifat dan
bentuk sama dengan dewasanya)yang hidup di dalam air.
Tahap pertama dalam siklus hidup capung:
Tahap pertama dalam siklus hidup capung:
Siklus kehidupan capung
dimulai dari telur yang diletalakan oleh capung betina di ranting tanaman
didalam air atau di genangan air atau di air yang mengalir, akan menetas
menjadi Nimfa (nymphs, atau naiads) atau Capung pra-dewasa
(sebelum dewasa) dalam waktu 1-2minggu. Pada
beberapa spesies, capung
jantan akan tetap bersama dengan capung betina
dan terbang bersama sambil sang capung betina
meletakan telurnya ke air. Ada juga capung jantan
yang melepaskan capung
betina setelah kawin tetapi tetap mengawasinya saat capung betina
itu bertelur. Kadang capung betina
bertelur hanya sendiri saja.
Siklus Hidup capung
(Foto : Capung jarum kawin,
Sumber : http://jujujitu.blogspot.com/2011/05/siklus-hidup-capung.html)
(Foto capung bertelur, Sumber : http://jujujitu.blogspot.com/2011/05/siklus-hidup-capung.html)
Tahap kedua dalam siklus hidup
capung:
Nimfa
Setelah telur
menetas dalam waktu 1-2 minggu, kehidupan larva capung
sebagai nimfa (nymphs, atau naiads) pun dimulai. Nimfa capung
hidup sebagai hewan karnivora yang ganas. Nimfa capung yang
berukuran besar bahkan dapat memburu dan memangsa berudu dan anak ikan. Nimfa
capung
bernafas dengan insang yang ada di dalam rektumnya di ujung perut. Sedangkan
nimfa capung jarum bernafas dengan 3 insang seperti bulu yang ada di
ujung perutnya. Nimfa capung akan
hidup di air sampai menjadi cukup besar untuk kemudian berubah menjadi capung dewasa
(imago). Nimfa akan mengalami beberapa kali pergantian kulit
(ekdisis). Tiap tahapan diantara pergantian kulit itu disebut instar.
Tergantung dari jenis spesiesnya, bisa terdapat 8-17 instar. Umur nimfa
sendiri dapat mencapai 4 minggu sampai beberapa tahun. Instar terakhir akan merayap keluar dari air, melepas kulitnya dan keluar
sebagai capung dewasa.
Nimfa capung (Sumber : http://jujujitu.blogspot.com/2011/05/siklus-hidup-capung.html)
Foto ketika capung menjadi
karnivora ganas,(Sumber : http://jujujitu.blogspot.com/2011/05/siklus-hidup-capung.html)
Ketika nimfa sudah benar-benar berkembang,
dan kondisi lingkungan/cuaca mendukung, ia akan menyelesaikan tahap
metamorfosisnya menjadi capung dewasa
dengan merayap keluar dari air pada ranting tanaman. Nimfa akan
melepaskan kulitnya dan menjadi capung dewasa muda. Kulit nimfa itu di sebut exuvia. Beberapa
spesies capung melakukan proses pelepasan exuvia pada malam hari dan siap terbang
pada keesokan harinya. Spesies lainnya melakukannya pada siang hari. Proses ini
biasanya berlangsung singkat, hanya beberapa jam saja, tetapi diikuti oleh
jumlah capung
yang banyak. Penetasan masal ini menjamin capung
jantan dan betina akan dewasa sempurna dalam waktu yang sama. Hal ini juga
untuk menjamin agar ada cukup banyak capung dewasa
nantinya, yang selamat dari kejaran predatornya, yang akan melanjutkan proses perkembang-biakan
selanjutnya.
Ketika capung
melepaskan exuvia-nya, maka ia telah menjadi capung
dewasa sepenuhnya namun belum cukup matang secara seksual. Diperlukan waktu
sampai sekitar 2 minggu untuk bisa benar-benar dewasa secara seksual (mature). Capung
yang baru lahir ini, dengan warna yang lebih pucat dari capung
dewasa sepenuhnya, disebut “teneral”
atau immature. Capung
akan mulai berburu mangsanya sambil terbang. Ketika capung
sudah dewasa sepenuhnya, ia akan mulai mencari lingkungan yang basah dan mulai
mencari pasangan. Ketika telah menemukan pasangan dan kawin,
capung
betina akan mulai bertelur dan siklus hidup capung di
mulai lagi. Capung dewasa
hanya dapat hidup maksimal sampai 4 bulan.
Setelah sekitar
1 jam dari sejak melepaskan kulit exuvia-nya, capung sudah
siap untuk terbang (atas) dan akan mulai mencari makananya yang bisa berupa
serangga-seranga terbang kecil, atau capung lain
(bawah).
Setelah matang
secara seksual, capung
akan mencari pasangannya dan kawin.
Biasanya ketika sedang kawin
dan terbang, capung
betina akan berisitirahat (tidak mengerakan sayapnya) (atas). Capung jarum kawin
(bawah).
Kamis, 18 April 2013
UTS EKOLOGI EKWAN
SOAL
1.
Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan poikilotermik sangat berguna aplikasinya
dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep
waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat
bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.
2.
Jelaskan pemanfaatan konsep kelimpahan,
intensitas dan prevalensi, disperse, fekunditas, dan kelulushidupan dalam
kaitannya dengan penetapan hewan langka!
3.
Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi,
khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan
contohnya!
4.
Nilai sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika
belajar konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!
5.
Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan
untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip
dan praktik pemanfaatannya!
6.
Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi
aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian
tentang relungnya. (dalam satu kelas, hewan yang dikaji tidak boleh sama)!
1. Konsep waktu dalam kasus ulat bulu ini memiliki pengertian yaitu lama
tidaknya jangka waktu yg dibutuhkan oleh hewan, yang nantinya akan sangat
berkaitan dengan laju perkembangannya.
Peledakan populasi
seperti halnya kasus ulat bulu yang ada di probolinggo terjadi di akibatkan
oleh beberapa factor yakni perubahan iklim, terjadi perubahan suhu dan
kelembapan udara, dan juga dikarenakan musuh alami ulat bulu seperti burung
pemakan ulat dan semut keranggang yang semakin berkurang populasinya. Sehingga
tidak ada yang mengontrol populasi ulat bulu, akibatnya jumlah ulat bulu
semakin banyak dan tidak terkendali lagi. Apalagi dalam hal ini perubahan suhu
dan kelembapan udara yang justru sangat menguntungkan bagi perkembangbiakannya.
Menurut
Pracaya (2008), iklim dengan kelembapan kurang dari 70% dan suhu harian tinggi,
antara 26-32 C mampu memicu perkembangan pupa. Dalam hal ini siklus hidup ulat
ini berkisar antara 25-60 hari. Dalam iklim yg sedang tidak menentu seperti
pada kasus tadi bisa jadi siklus hidup ulat bulu menjadi lebih cepat dari yg
semestinya karena ulat termasuk golongan hewan yg poikiloterm. Sumber: Makalah
“Analisis Ilmiah Wabah Ulat Bulu di Probolinngo”
2. Kelimpahan populasi suatu spesies mengandung dua aspek
yang berbeda, yaitu aspek intensitas dan aspek prevalensi. Intensitas
menunjukkan aspek tinggi rendahnya kerapatan populasi dalam area yang dihuni
spesies. Prevalensi menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati
spesies dalam konteks daerah yang lebih luas (masalah sebaran).
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (=prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu.
Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut:
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (=prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu.
Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut:
prevalensi tinggi (=prevalen) dan intensitasnya tinggi
prevalensi tinggi (=prevalen) tetapi intensitasnya rendah
prevalensi rendah (=terlokalisasi) tetapi intensitasnya tinggi
prevalensi rendah (=terlokalisasi) dan intensitasnya rendah.
Badak Jawa dan Jalak Bali bersifat endemic dan merupakan spesies langka yang terancam kepunahan. Ktegorisasi status spesies dengan memperhitungkan dua aspek tersebut sangat penting terutama dalam menentukan urutan prioritas perhatian dan untuk melakukan upaya-upaya kelestarian spesies hewan langka yang terancam punah.
Spesies yang terlokalisasi dan intensitasnya rendah dikategorikan sebagai spesies langka. Adakalanya spesies yang intensitasnya tinggi namun prevalensinya rendah pun dimasukkan dalam kategori tersebut.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab langkanya suatu spesies sangat banyak. Namun, faktor-faktor tersebut mengkin saja tidak sama antara spesies di suatu tempat tertentu dengan spesies di tempat lain. http://nenkiuedubio.blogspot.com/2011/05/populasi-hewan.html
Kaitan antara kelimpahan dengan status kelangkaan hewan adalah area yg dihuni oleh spesies local (awal) menjadi sempit dikarenakan spesies lain yg lulus dalam kompetisi memangsa dan dimangsa dalam area tersebut berhasil seolah menjadi raja di spesies hewan yg terancam punah tadi. Sehingga lama kelamaan populasi spesies yg sudah mengalami kelulus hidupan dihabitatnya tadi menjadi semakin banyak dan akan menggeser populasi spesies local (awal). Belum lagi dengan adanya kehadiran spesies lain yg dalam hal ini sebagai pesaing atau bahkan predator. Sehingga dari keadaan awal habitat tempat yg kondusif bagi spesies (awal) tadi sekarang menjadi tidak kondusif lagi dan memaksa spesies tersebut untuk mencari hunian di area lain yg mungkin belum sepenuhnya cocok dengan lingkungan tempat spesies terancam punah tadi. Dan otomatis pergerakan dari pencarian tempat tinggal baru ini akan menyebabkan pola persebaran yg acak serta tidak memento (untuk sebagian spesies yg hidupnya tidak bergerombol atau bersama-sama misal).
3. Simbiosis parasitisme memiliki pengertian interaksi yg dilakukan oleh
suatu individu dengan individu lain, dimana salah satu individu tersebut
mendapat keuntungan sedangkan individu yg lain mendapatkan kerugian dalam
populasi. Contohnya interaksi antara tumbuhan tali putri dengan inangnya. Tumbuhan
tali putri mendapatkan makanan dan tempat tinggal dari inangnya. Sedangkan
inangnya mendapat kerugian karena makanannya diambil oleh tumbuhan tali putri.
Tali Putri adalah tumbuhan parasit,
kelangsungan hidup tali putri sangat bergantung pada tumbuhan lain. Tumbuhan
ini tidak berakar dan tidak menghasilkan makanan sendiri melalui proses
fotosintesis seperti halnya tumbuhan hijau daun. Ia hanya melilitkan sulurnya,
lalu mengisap saripati makanan dari tumbuhan inang. Sifat parasitnya sudah
diperlihatkan sejak beberapa hari pertama dalam kehidupannya. Kantung makanan
yang terdapat pada bijinya hanya cukup memberi makan selama beberapa hari saja
dan memperpanjang batang hingga 4 inci atau 10 sentimeter. penelitian yang
dilakukan para ahli di Pennsylvania State University, AS, memperlihatkan suatu
temuan yang menarik. Rahasianya ada pada kemampuan tali putri dalam mengendus volatile atau sejenis zat kimia yang
dihasilkan tumbuhan. Bau volatile
itulah yang dijadikan “panduan” tali putri untuk bergerak ke arah tumbuhan
bakal inangnya. Sebuah bentuk komunikasi mengagumkan dari dunia tumbuhan yang
pernah diketahui. Setelah menempel, melilitkan sulurnya, mulailah tali putri
mengisap saripati makanan dari tumbuhan inang.
“Jika mereka bergerak ke arah yang salah, mereka akan mati,” kata Consuelo De Moraes, salah seorang peneliti dari Pennsylvania State University kepada LiveScience. Secara detail, temuan tersebut dimuat dalam jurnal Science edisi 29 September 2006. Temuan itu memperlihatkan untuk pertama kalinya diketahui tali putri bisa menjadi “chatter” tumbuhan lain. Temuan ini sekaligus memecahkan persoalan debat panjang selama beberapa dekade tentang fungsi dan keberadaan volatile bahan kimia mudah menguap dalam interaksi antara satu tumbuhan dengan tanaman lain. Sumber http://www.terbaca.com/2010/06/sifat-parasit-tumbuhan-tali-putri.html
“Jika mereka bergerak ke arah yang salah, mereka akan mati,” kata Consuelo De Moraes, salah seorang peneliti dari Pennsylvania State University kepada LiveScience. Secara detail, temuan tersebut dimuat dalam jurnal Science edisi 29 September 2006. Temuan itu memperlihatkan untuk pertama kalinya diketahui tali putri bisa menjadi “chatter” tumbuhan lain. Temuan ini sekaligus memecahkan persoalan debat panjang selama beberapa dekade tentang fungsi dan keberadaan volatile bahan kimia mudah menguap dalam interaksi antara satu tumbuhan dengan tanaman lain. Sumber http://www.terbaca.com/2010/06/sifat-parasit-tumbuhan-tali-putri.html
Seperti halnya
tanaman gulma, tanaman tali putri termasuk dalam kelompok gulma. Tiap tahun
tali putri menghasilkan biji yang jatuh ketanah dan berkecamabah dalam tanah
.tali putri muda panjangnya 2-4 inci ,yang tumbuh dan bergerak kearah inang
pada musim panas dan gugur atau musim ke marau di indonesia ,tali putri
menghasilkan bunga bunga berukuran kecil berwarna putih . bunga ini memproduksi
2 sel kapsul yang meretak dan melepaskan 1-4 biji,dimana tiap bijinya bisa
menghasilkan tumbuhan baru tiap tahun. http://artikelsainsbiologi.blogspot.com/2010/12/tali-putri-si-genit-yang-parasit.html
Pengendalian gulma dengan
menggunakan organisme hidup, seperti serangga, ikan pemakan tanaman dan hewan
lainnya, organisme penyakit dan tanaman pesaing untuk membatasi gulma (Gupta,
1984). Pengendalian biologis dalam hal menangani gulma parasit seperti tali
putri dapat dilakukan dengan menggunakan wereng. Wereng selalu melakukan
penghisapan sejenis zat cair dan air dari batang-batang tanaman tali putri atau sejenisnya yang masih muda atau
butir-butir buahnya yang juga masih muda dan lunak. Sumber http://widyatan.com/index.php/download/category/5-bahan-ajar?download=4:pengendalian-gulma-kakao
Sedangkan aplikasi parasitoidisme lebih
detailnya dicontohkan pada serangga, umumnya adalah tawon kecil. Dimana tawon
tersebut selalu meletakkan telurnya di atas inang yg hidup. Larva itu kemudian
memakan bagaian dalam tubuh inang, yang akhirnya menyebabkan kematian inang
tersebut.
4.
Peserta didik harus
dapat memahami arti,atau setidaknya langkah tepat yang harus diambil ketika
harus beretika dengan hewan maupun lingkungan kehidupannya. Contohnya ketika
peserta didik dihadapkan dengan suatu ekosistem sungai, dimana disungai
tersebut masih banyak terdapat hewan-hewan air misalnya ikan (ketika dalam
kondisi belum tercemar). Namun ketika ada pabrik yang berdiri di dekat
ekosistem ikan tersebut, sedikit demi sedikit ikan yang disungai akan mati.
Dalam kondisi yg seperti ini, jika yang mendirikan pabrik tersebut memahami
benar tentang lingkungan maka sedapat mungkin dia tidak akan memunahkan ekosistem di sungai tersebut. Atau
kalau bisa dia akan mendirikan suatu kompleks penangkaran, sebagai ganti dari
habitat hewan yg telah terpakai oleh karena berdirinya pabrik tersebut. Intinya
ada pada etika dan solusi yg tepat.
5.
Penggunaan
makrozoobentos sebagai penduga kualitas air dapat digunakan untuk kepentingan
pendugaan pencemaran baik yang berasal dari point source pollution maupun
diffuse source pollution. Point source yaitu polusi yang bersumber dari satu
titik misalnya air limbah domestik dan industri, sedangkan diffuse source
pollution atau non point source (sumber tersebar) dimana sumber polusi tersebar
dimana-mana seperti limbah pertanian (pupuk pestisida), perikanan atau pakan
ikan, dan peternakan. Makrobentos memiliki sifat ubiquitous atau terdapat
dimana-mana dan dapat memberikan spektrum respon terhadap stress lingkungan.
Kehidupannya relatif menetap pada habitatanya sehingga memungkinkan menjelaskan
perubahan spatial dan juga memiliki siklus hidup lebih panjang yang
memungkinkan menjelaskan perubahan temporal. Sumber : Skripsi “KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI BATANG ANAI,
SUMBAR”.
6. Anoa (Bubalus
spp.) merupakan penghuni hutan yang hidupnya berpindah-pindah
tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan
mencebur ke rawa-rawa dan apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan
tanduknya. Habitatnya di hutan tropika dataran, savanna, kadang-kadang dijumpai
di rawa-rawa. Anoa memiliki kebiasaan berkubang atau berendam digenangan air di
hutan pantai yang berbatasan langsung dengan hutan bakau pada siang hari yang
terik. Satwa ini juga termasuk perenang dan pendaki gunung yang ulet, mereka
sering dijumpai berenag dipantai. Kebiasaan anoa yang lain yaitu mengasah atau
meruncingkan tanduknya pada pohon-pohon tertentu, menggaruk tanah di sekitar
tempat pembuangan kotorannya disepanjang lintasannya di dalam hutan. Satwa
tersebut aktif baik pada siang hari maupun pada malam hari. Tambahan lagi
makhluk ini termasuk satwa liar yang sangat peka, gangguan sedikit saja
menyebabkan satwa ini menjauh.
Menurut Amir
(2008), dalam catatan penelitian (progress report) STORMA, pergerakan
Anoa (Bubalus
spp) berlangsung secara berkelompok maupun sendiri, dan bergerak dari tempat yang
rendah menuju tempat yang lebih tinggi dan begitupun sebaliknya. pergerakan ini
dilakukan untuk mencari makan ataupun minum dan melakukan istirahat. Pergerakan
ini umumnya bergerak dengan radius sampai 3,5 km atau lebih..
Di alam bebas
Anoa liar memakan “aquatic
feed” antara lain berupa pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan
yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Pujaningsih, et al., (2005)
dan beberapa peneliti dilaporkan bahwa Anoa dataran rendah kadang-kadang juga
minum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Di dataran
tinggi, Anoa menjilat garam alami dalam rangka pemenuhan kebutuhan mineralnya.
(Malik et al.,
2004; Pujaningsih, 2005). Sumber :
http://www.ksdasulsel.org/artikel/fauna/165-anoa-satwa-endemik-sulawesi
Anoa cenderung
menghindari kontak langsung dengan manusia dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan aktivitas manusia seperti adanya ternak sapi atau kerbau. Kecuali pada
beberapa kawasan hutan dimana anoa tidak punya pilihan untuk menghindar karena
habitatnya terisolir, anoa dapat saja ditemukan mendatangi areal perkebunan
yang berbatasan dengan hutan atau kawasan konservasi.
Seiring
pertambahan penduduk dan terbukanya akses oleh berbagai kegiatan seperti
pemukiman, transmigrasi, perkebunan dan pertambangan, habitat anoa yang
dahulunya sulit terjangkau, aksesnya semakin terbuka, akibatnya habitat satwa
ini semakin berkurang dan terkotak-kotak yang pada akhirnya menyebabkan
populasinya menurun. Banyak kawasan hutan yang dahulunya dikenal sebagai
habitat anoa tidak lagi dijumpai satwa tersebut seperti yang terjadi di CA
Tangkoko Batuangus di Bitung Sulawesi Utara, anoa punah secara lokal. Habitat
anoa terfragmentasi, populasi kecil terisolir sehingga diantara individu tidak
terjadi perkawinan dan pertukaran genetik yang pada gilirannya akan membawa
masalah serius inbreeding, perkawinan antar kerabat dekat yang mana akan
menyebabkan terjadinya erosi genetik seperti yang terjadi pada kawasan hutan
yang relatif sempit misalnya SM Tanjung Amolengo dan CA Lamedai di Sulawesi
Tenggara dan banyak kawasan hutan lainnya yang dihuni anoa telah terfragmentasi
seperti ini http://www.scribd.com/doc/22143969/Kharakteristik-Habitat-Anoa
Mekanisme perilaku makan "Rayap"
Rayap
pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun sebarannya
kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate ) dengan
batas-batas 50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai
dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Makanan utamanya
adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan
yang demikian kita menarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk
hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan
kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai
makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti
karbon dan nitrogen. Tapi masalahnya adalah manusia juga merupakan konsumen
primer yang memerlukan hasil-hasil tanaman bukan saja untuk makanannya tetapi
juga untuk membuat rumah dan bangunan-bangunan lain yang diperlukannya. Di
sinilah letak permasalahannya, sehingga manusia bersaing dengan rayap. Semula
agak mengherankan para pakar bahwa rayap mampu makan (menyerap) selulosa karena
manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa (bagian berkayu dari sayuran
yang kita makan, akan dikeluarkan lagi !), sedangkan rayap mampu melumatkan dan
menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Keadaan
menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata dalam usus bagian belakang dari berbagai
jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan
Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan
selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tak
memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa
yang berperan tetapi bakteria -- dan
bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes ,
Odontotermes dan
Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di
"kebun jamur" dalam sarangnya.
Langganan:
Postingan (Atom)










