Kamis, 18 April 2013

UTS EKOLOGI EKWAN



SOAL
1.        Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan  poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.

2.        Jelaskan pemanfaatan konsep kelimpahan, intensitas dan prevalensi, disperse, fekunditas, dan kelulushidupan dalam kaitannya dengan penetapan hewan langka!

3.        Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!

4.        Nilai sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!

5.        Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!

6.        Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya. (dalam satu kelas, hewan yang dikaji tidak boleh sama)!






1.      Konsep waktu dalam kasus ulat bulu ini memiliki pengertian yaitu lama tidaknya jangka waktu yg dibutuhkan oleh hewan, yang nantinya akan sangat berkaitan dengan laju perkembangannya.
Peledakan populasi seperti halnya kasus ulat bulu yang ada di probolinggo terjadi di akibatkan oleh beberapa factor yakni perubahan iklim, terjadi perubahan suhu dan kelembapan udara, dan juga dikarenakan musuh alami ulat bulu seperti burung pemakan ulat dan semut keranggang yang semakin berkurang populasinya. Sehingga tidak ada yang mengontrol populasi ulat bulu, akibatnya jumlah ulat bulu semakin banyak dan tidak terkendali lagi. Apalagi dalam hal ini perubahan suhu dan kelembapan udara yang justru sangat menguntungkan bagi perkembangbiakannya.

Menurut Pracaya (2008), iklim dengan kelembapan kurang dari 70% dan suhu harian tinggi, antara 26-32 C mampu memicu perkembangan pupa. Dalam hal ini siklus hidup ulat ini berkisar antara 25-60 hari. Dalam iklim yg sedang tidak menentu seperti pada kasus tadi bisa jadi siklus hidup ulat bulu menjadi lebih cepat dari yg semestinya karena ulat termasuk golongan hewan yg poikiloterm. Sumber: Makalah “Analisis Ilmiah Wabah Ulat Bulu di Probolinngo”

2.      Kelimpahan populasi suatu spesies mengandung dua aspek yang berbeda, yaitu aspek intensitas dan aspek prevalensi. Intensitas menunjukkan aspek tinggi rendahnya kerapatan populasi dalam area yang dihuni spesies. Prevalensi menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati spesies dalam konteks daerah yang lebih luas (masalah sebaran).
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (=prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu.
Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut:

prevalensi tinggi (=prevalen) dan intensitasnya tinggi
prevalensi tinggi (=prevalen) tetapi intensitasnya rendah
prevalensi rendah (=terlokalisasi) tetapi intensitasnya tinggi
prevalensi rendah (=terlokalisasi) dan intensitasnya rendah.

Badak Jawa dan Jalak Bali bersifat endemic dan merupakan spesies langka yang terancam kepunahan. Ktegorisasi status spesies dengan memperhitungkan dua aspek tersebut sangat penting terutama dalam menentukan urutan prioritas perhatian dan untuk melakukan upaya-upaya kelestarian spesies hewan langka yang terancam punah.
Spesies yang terlokalisasi dan intensitasnya rendah dikategorikan sebagai spesies langka. Adakalanya spesies yang intensitasnya tinggi namun prevalensinya rendah pun dimasukkan dalam kategori tersebut.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab langkanya suatu spesies sangat banyak. Namun, faktor-faktor tersebut mengkin saja tidak sama antara spesies di suatu tempat tertentu dengan spesies di tempat lain.
http://nenkiuedubio.blogspot.com/2011/05/populasi-hewan.html

Kaitan antara kelimpahan dengan status kelangkaan hewan adalah area yg dihuni oleh spesies local (awal) menjadi sempit dikarenakan spesies lain yg lulus dalam kompetisi memangsa dan dimangsa dalam area tersebut berhasil seolah menjadi raja di spesies hewan yg terancam punah tadi. Sehingga lama kelamaan populasi spesies yg sudah mengalami kelulus hidupan dihabitatnya tadi menjadi semakin banyak dan akan menggeser populasi spesies local (awal). Belum lagi dengan adanya kehadiran spesies lain yg dalam hal ini sebagai pesaing atau bahkan predator. Sehingga dari keadaan awal habitat tempat yg kondusif bagi spesies (awal) tadi sekarang menjadi tidak kondusif lagi dan memaksa spesies tersebut untuk mencari hunian di area lain yg mungkin belum sepenuhnya cocok dengan lingkungan tempat spesies terancam punah tadi. Dan otomatis pergerakan dari pencarian tempat tinggal baru ini akan menyebabkan pola persebaran yg acak serta tidak memento (untuk sebagian spesies yg hidupnya tidak bergerombol atau bersama-sama misal).
 

3.      Simbiosis parasitisme memiliki pengertian interaksi yg dilakukan oleh suatu individu dengan individu lain, dimana salah satu individu tersebut mendapat keuntungan sedangkan individu yg lain mendapatkan kerugian dalam populasi. Contohnya interaksi antara tumbuhan tali putri dengan inangnya. Tumbuhan tali putri mendapatkan makanan dan tempat tinggal dari inangnya. Sedangkan inangnya mendapat kerugian karena makanannya diambil oleh tumbuhan tali putri.

Tali Putri adalah tumbuhan parasit, kelangsungan hidup tali putri sangat bergantung pada tumbuhan lain. Tumbuhan ini tidak berakar dan tidak menghasilkan makanan sendiri melalui proses fotosintesis seperti halnya tumbuhan hijau daun. Ia hanya melilitkan sulurnya, lalu mengisap saripati makanan dari tumbuhan inang. Sifat parasitnya sudah diperlihatkan sejak beberapa hari pertama dalam kehidupannya. Kantung makanan yang terdapat pada bijinya hanya cukup memberi makan selama beberapa hari saja dan memperpanjang batang hingga 4 inci atau 10 sentimeter. penelitian yang dilakukan para ahli di Pennsylvania State University, AS, memperlihatkan suatu temuan yang menarik. Rahasianya ada pada kemampuan tali putri dalam mengendus volatile atau sejenis zat kimia yang dihasilkan tumbuhan. Bau volatile itulah yang dijadikan “panduan” tali putri untuk bergerak ke arah tumbuhan bakal inangnya. Sebuah bentuk komunikasi mengagumkan dari dunia tumbuhan yang pernah diketahui. Setelah menempel, melilitkan sulurnya, mulailah tali putri mengisap saripati makanan dari tumbuhan inang.
“Jika mereka bergerak ke arah yang salah, mereka akan mati,” kata Consuelo De Moraes, salah seorang peneliti dari Pennsylvania State University kepada LiveScience. Secara detail, temuan tersebut dimuat dalam jurnal Science edisi 29 September 2006. Temuan itu memperlihatkan untuk pertama kalinya diketahui tali putri bisa menjadi “chatter” tumbuhan lain. Temuan ini sekaligus memecahkan persoalan debat panjang selama beberapa dekade tentang fungsi dan keberadaan volatile bahan kimia mudah menguap dalam interaksi antara satu tumbuhan dengan tanaman lain. Sumber http://www.terbaca.com/2010/06/sifat-parasit-tumbuhan-tali-putri.html

Seperti halnya tanaman gulma, tanaman tali putri termasuk dalam kelompok gulma. Tiap tahun tali putri menghasilkan biji yang jatuh ketanah dan berkecamabah dalam tanah .tali putri muda panjangnya 2-4 inci ,yang tumbuh dan bergerak kearah inang pada musim panas dan gugur atau musim ke marau di indonesia ,tali putri menghasilkan bunga bunga berukuran kecil berwarna putih . bunga ini memproduksi 2 sel kapsul yang meretak dan melepaskan 1-4 biji,dimana tiap bijinya bisa menghasilkan tumbuhan baru tiap tahun. http://artikelsainsbiologi.blogspot.com/2010/12/tali-putri-si-genit-yang-parasit.html

Pengendalian gulma dengan menggunakan organisme hidup, seperti serangga, ikan pemakan tanaman dan hewan lainnya, organisme penyakit dan tanaman pesaing untuk membatasi gulma (Gupta, 1984). Pengendalian biologis dalam hal menangani gulma parasit seperti tali putri dapat dilakukan dengan menggunakan wereng. Wereng selalu melakukan penghisapan sejenis zat cair dan air dari batang-batang tanaman tali putri   atau sejenisnya yang masih muda atau butir-butir buahnya yang juga masih muda dan lunak. Sumber http://widyatan.com/index.php/download/category/5-bahan-ajar?download=4:pengendalian-gulma-kakao 

Sedangkan aplikasi parasitoidisme lebih detailnya dicontohkan pada serangga, umumnya adalah tawon kecil. Dimana tawon tersebut selalu meletakkan telurnya di atas inang yg hidup. Larva itu kemudian memakan bagaian dalam tubuh inang, yang akhirnya menyebabkan kematian inang tersebut.

4.      Peserta didik harus dapat memahami arti,atau setidaknya langkah tepat yang harus diambil ketika harus beretika dengan hewan maupun lingkungan kehidupannya. Contohnya ketika peserta didik dihadapkan dengan suatu ekosistem sungai, dimana disungai tersebut masih banyak terdapat hewan-hewan air misalnya ikan (ketika dalam kondisi belum tercemar). Namun ketika ada pabrik yang berdiri di dekat ekosistem ikan tersebut, sedikit demi sedikit ikan yang disungai akan mati. Dalam kondisi yg seperti ini, jika yang mendirikan pabrik tersebut memahami benar tentang lingkungan maka sedapat mungkin dia tidak akan  memunahkan ekosistem di sungai tersebut. Atau kalau bisa dia akan mendirikan suatu kompleks penangkaran, sebagai ganti dari habitat hewan yg telah terpakai oleh karena berdirinya pabrik tersebut. Intinya ada pada etika dan solusi yg tepat.

5.      Penggunaan makrozoobentos sebagai penduga kualitas air dapat digunakan untuk kepentingan pendugaan pencemaran baik yang berasal dari point source pollution maupun diffuse source pollution. Point source yaitu polusi yang bersumber dari satu titik misalnya air limbah domestik dan industri, sedangkan diffuse source pollution atau non point source (sumber tersebar) dimana sumber polusi tersebar dimana-mana seperti limbah pertanian (pupuk pestisida), perikanan atau pakan ikan, dan peternakan. Makrobentos memiliki sifat ubiquitous atau terdapat dimana-mana dan dapat memberikan spektrum respon terhadap stress lingkungan. Kehidupannya relatif menetap pada habitatanya sehingga memungkinkan menjelaskan perubahan spatial dan juga memiliki siklus hidup lebih panjang yang memungkinkan menjelaskan perubahan temporal. Sumber : Skripsi “KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI BATANG ANAI, SUMBAR”.

6.      Anoa (Bubalus spp.) merupakan penghuni hutan yang hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa dan apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan tanduknya. Habitatnya di hutan tropika dataran, savanna, kadang-kadang dijumpai di rawa-rawa. Anoa memiliki kebiasaan berkubang atau berendam digenangan air di hutan pantai yang berbatasan langsung dengan hutan bakau pada siang hari yang terik. Satwa ini juga termasuk perenang dan pendaki gunung yang ulet, mereka sering dijumpai berenag dipantai. Kebiasaan anoa yang lain yaitu mengasah atau meruncingkan tanduknya pada pohon-pohon tertentu, menggaruk tanah di sekitar tempat pembuangan kotorannya disepanjang lintasannya di dalam hutan. Satwa tersebut aktif baik pada siang hari maupun pada malam hari. Tambahan lagi makhluk ini termasuk satwa liar yang sangat peka, gangguan sedikit saja menyebabkan satwa ini menjauh.
Menurut Amir (2008), dalam catatan penelitian (progress report) STORMA, pergerakan Anoa (Bubalus spp) berlangsung secara berkelompok maupun sendiri, dan bergerak dari tempat yang rendah menuju tempat yang lebih tinggi dan begitupun sebaliknya. pergerakan ini dilakukan untuk mencari makan ataupun minum dan melakukan istirahat. Pergerakan ini umumnya bergerak dengan radius sampai 3,5 km atau lebih..
Di alam bebas Anoa liar memakan “aquatic feed” antara lain berupa pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Pujaningsih, et al., (2005) dan beberapa peneliti dilaporkan bahwa Anoa dataran rendah kadang-kadang juga minum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Di dataran tinggi, Anoa menjilat garam alami dalam rangka pemenuhan kebutuhan mineralnya. (Malik et al., 2004; Pujaningsih, 2005). Sumber : http://www.ksdasulsel.org/artikel/fauna/165-anoa-satwa-endemik-sulawesi
Anoa cenderung menghindari kontak langsung dengan manusia dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas manusia seperti adanya ternak sapi atau kerbau. Kecuali pada beberapa kawasan hutan dimana anoa tidak punya pilihan untuk menghindar karena habitatnya terisolir, anoa dapat saja ditemukan mendatangi areal perkebunan yang berbatasan dengan hutan atau kawasan konservasi.
Seiring pertambahan penduduk dan terbukanya akses oleh berbagai kegiatan seperti pemukiman, transmigrasi, perkebunan dan pertambangan, habitat anoa yang dahulunya sulit terjangkau, aksesnya semakin terbuka, akibatnya habitat satwa ini semakin berkurang dan terkotak-kotak yang pada akhirnya menyebabkan populasinya menurun. Banyak kawasan hutan yang dahulunya dikenal sebagai habitat anoa tidak lagi dijumpai satwa tersebut seperti yang terjadi di CA Tangkoko Batuangus di Bitung Sulawesi Utara, anoa punah secara lokal. Habitat anoa terfragmentasi, populasi kecil terisolir sehingga diantara individu tidak terjadi perkawinan dan pertukaran genetik yang pada gilirannya akan membawa masalah serius inbreeding, perkawinan antar kerabat dekat yang mana akan menyebabkan terjadinya erosi genetik seperti yang terjadi pada kawasan hutan yang relatif sempit misalnya SM Tanjung Amolengo dan CA Lamedai di Sulawesi Tenggara dan banyak kawasan hutan lainnya yang dihuni anoa telah terfragmentasi seperti ini http://www.scribd.com/doc/22143969/Kharakteristik-Habitat-Anoa






Tidak ada komentar:

Posting Komentar